Saturday, June 5, 2010

Kisah Abu Hurairah

Saya yakin, anda pasti kenal shahabat Rasulullah Saw. yang satu ini. Atau masih ada di antara anda yang belum kenal Abu Hurairah? Penghafal 1607 hadits Rasulullah Saw.

Pada masa Jahiliyah orang memanggilnya Abdu Syams (budak matahari). Setelah Allah memuliakannya dengan Islam, Rasulullah saw. bertanya, "Siapa nama anda?"
"Abdu Syams," jawab Abu Hurairah singkat.
"Bukannya Abdur Rahman?" tanya Rasulullah.
"Demi Allah, anda benar. Nama saya Abdur Rahman, ya Rasulullah!" jawab Abu Hurairah setuju.

Tapi, mengapa yang lebih populer nama Abu Hurairah, bukan Abdur Rahman? Padahal nama itu pemberian Nabi Saw. Nama Abu Hurairah adalah nama panggilannya waktu kecil. Waktu itu ia punya seekor kucing betina yang sering diajaknya bermain-main. Oleh karena itu teman-temannya menjulukinya Abu Hurairah.

Setelah Rasulullah Saw. tahu asal-muasal panggilan itu, beliau sering memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab. Dan sebenarnya, Abu Hurairah sendiri lebih suka dipanggil Abu Hirr ketimbang Abu Hurairah. Konon, hirr itu artinya kucing jantan, sedangkan hurairah kucing betina. Menurut Abu Hurairah, kucing janan lebih baik dari kucing betina.

Abu Hurairah masuk Islam melalui Tufail bin Amr Ad-Dausy. Islam masuk ke negeri kaum Dausy kira-kira awal tahun ketujuh Hijriyah. Ketika itu Abu Hurairah menjadi utusan kaumnya menemui Rasulullah Saw. di Madinah. Setelah bertemu Rasulullah, Abu Hurairah memutuskan untuk berkhidmat kepada Rasulullah Saw. dan menemani beliau.

Sejak itu Abu Hurairah tinggal di masjid tempat Rasulullah Saw. mengajar dan mengimami shalat. Selama Rasulullah Saw. hidup, Abu Hurairah belum mau beristri. Mungkin ia khawatir bila beristri, konsentrasinya dalam membantu Rasulullah terganggu.

Abu Hurairah punya seorang ibu yang masih syirik. Tak henti-hentinya ia mengajak ibuya masuk Islam, karena ia amat mencintainya. Tapi, setiap Abu Hurairah mengajak masuk Islam, ibunya selalu menolak, bahkan tak jarang mengeluarkan umpatan yang menghina Rasulullah.

Sambil menangis, Abu Hurairah menemui Rasulullah Saw.
"Mengapa engkau menangis, wahai Abu Hurairah," tanya Nabi Saw. "Aku tak bosan-bosannya mengajak ibuku masuk Islam. Hari ini kembali kuajak ibuku masuk Islam. Tapi, ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak pantas mengenai engkau. Aku sendiri tak sudi mendengarnya. Tolong doakan agar ibuku mau masuk Islam, ya Rasulullah," pinta Abu Hurairah. Rasulullah Saw. pun memenuhi permintaan Abu Hurairah dan mendoakan agar ibu Abu Hurairah itu masuk Islam.

Suatu ketika Abu Hurairah pulang ke rumah ibunya. Ia bermaksud mengajak ibu yang dicintainya itu masuk agama Allah. Waktu itu pintu rumah tertutup. Tatkala ia hendak masuk, ibuya berkata, "Tunggu di tempatmu, hai Abu Hurairah!"

Mungkin ibunya tengah berpakaian. Sejenak kemudian ibunya menyuruhnya masuk. Ketika telah berhadapan dengan ibunya, ibunya berkata, "Asyahadu an laa ilaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadar 'abduhu wa rasuuluh."

Abu Hurairah kembali menemui Rasulullah sambil menangis gembira, sebagaimana sebelumnya ia menangis lantaran sedih. "Bergembiralah wahai Rasulullah! Allah mengabulkan doa anda. Ibuku telah masuk Islam," tutur Abu Hurairah dengan wajah cerah.

Setelah ibunya masuk Islam, hati Abu Hurairah menjadi tenang, seolah-olah terbebas dari himpitan batu besar yang menyesakkan dada. Ia pun bisa berkonsentrasi menimba ilmu dari Rasulullah. Kecintaannya kepada ilmu sama besarnya dengan kecintaannya kepada Rasulullah.

Zaid bin Tsabit pernah bercerita, suatu ketika ia, Abu Hurairah, dan seorang shahabat lainnya berdoa dan berdzikir di dalam masjid. Tiba-tiba Rasulullah Saw. mendatangi mereka. Mereka pun berhenti berdoa dan berdzikir. Rasulullah berkata, "Ulangi doa dan dzikir ang kalian baca!"
Zaid bin Tsabit dan shahabat yang seorang lagi -- bukan Abu Hurairah -- berdoa. Rasulullah mengamini doa mereka berdua.

Lalu Abu Hurairah berdoa, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebagaimana yang dimohon kedua shahabatku ini. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu ang tak dapat aku lupakan." Rasulullah Saw. mengamini doa Abu Hurairah. Zaid dan seorang shahabat yang lain berkata, "Kami juga memohon kepada Allah ilmu yang yang tak dapat kami lupakan." Rasullah berkata, "Kalian telah didahului putra Bani Dausy (Abu Hurairah)."

Allah Swt. mengabulkan permintaan Abu Hurairah. Dia berhasil mengingat dan menghafal 1607 hadits Rasulullah Saw. bagi kaum Muslimin, sehingga dengan hadits-hadits itu berjuta-juta kaum Muslimin hingga akhir kiamat memperoleh petunjuk. Betapa besar pahala Abu Hurairah. Ya Allah, jadikan kami seperti Abu Hurairah.

http://hilabiyus.multiply.com/journal/item/30

Kisah Hidup Abu Bakar Ash Shiddiq

Hanya dalam 2,5 tahun kepemimpinannya, rakyat mencatatnya sebagai khalifah (pemimpin) Islam yang sukses memberantas kemiskinan, menciptakan stabilitas sosial dan politik, serta solidaritas kemanusiaan yang tanpa batas. Sekalipun dia pedagang kaya, tapi kesederhanaan dan kelembutan kepribadiannya selalu mendasari setiap kebijakan dan kepemimpinannya sebagai pengganti Rasulullah SAW.Padahal, boleh dikata berbagai ancaman, disintegrasi dan cercaan yang dialamatkan kepadanya, tak kalah hebatnya dibanding pada masa Rasulullah. Namun, itu semua dihadapi dengan hati bening, jiwa lapang, dan pikiran jernih. Ia senantiasa mengembalikan semua persoalan yang dihadapinya kepada ajaran yang hanif.

Abu Bakar bernama lengkap Abdullah bin Abi Kuhafah At-Tamimi. Nama kecilnya adalah Abdul Ka’bah. Gelar Abu Bakar diberikan Rasulullah karena cepatnya dia masuk Islam (assaabiquunal awwaluun, yakni golongan pertama yang masuk Islam). Sedang Ash Shiddiq yang berarti ‘amat membenarkan’ adalah gelar yang diberikan kepadanya lantaran ia segera membenarkan Rasulullah SAW dalam berbagai peristiwa.

Dari garis kedua orang tua, Usman bin Amir bin Amr bin Sa’ad bin Taim bin Murra bin Ka’ab bin Lu’ayy bin Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik (ayah), dan Ummu Khair Salama binti Skhar (suku Quraisy) terlihat, Abu Bakar termasuk dari suku terhormat, yakni suku Taim (ayah) dan Quraisy (ibu). Kedua suku ini banyak melahirkan orang besar.

Sejak kecil, Abu Bakar dikenal sebagai anak yang cerdas, sabar, jujur dan lembut. Ia menjadi sahabat Nabi SAW sejak keduanya masih usia remaja. Karena sifatnya yang mulia itu, ia banyak disenangi dan disegani oleh masyarakat sekitar, juga lawan maupun kawan saat memperjuangkan Islam.

Abu Bakar yang juga mahir dalam ilmu hisab itu, dikenal mempunyai kedudukan istimewa di sisi Nabi SAW. Bahkan salah satu putrinya, yakni ‘Aisyah Ra, kemudian dinikahi Rasulullah.

Secara universal, sesungguhnya prototipe Abu Bakar mungkin dapat digolongkan sebagai pejuang Islam yang sejak awal konsisten membela kaum tertindas, tak pandang bulu. Seperti dikutip Jamil Ahmed dalam Seratus Muslim Terkemuka, Abu Bakar tak pernah absen dalam setiap pertempuran menegakkan kebenaran dan menumpas penindasan.

Perjuangannya itu semakin berat sejak dirinya dipilih sebagai khalifah, menggantikan Rasulullah yang wafat pada 632 M. Ketika itu, wilayah kekuasaan Islam hampir meliputi seluruh semenanjung Arabia, dan terdiri berbagai suku.

Terpilihnya Abu Bakar yang juga disepakati kalangan sahabat itu dinilai tepat saat negara dalam kondisi tak menentu. Dalam pidato baiat yang dilakukan di Masjid Nabawi, Madinah, Abu Bakar antara lain menyatakan, “Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat dalam pandangan saya hingga saya menjamin hak-haknya seandainya Allah menghendaki, dan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah dalam pandangan saya sehingga saya dapat merebut hak daripadanya.

Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, janganlah ikuti saya.”

Sebagai pemimpin, kedermawanan dan solidaritas kemanusiaannya terhadap sesama tak diragukan lagi. Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, kekayaannya mencapai 40.000 dirham, nilai yang sangat besar saat itu. Kekayaan itu seluruhnya didedikasikan bagi perjuangan Islam. Soal ini, sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zeidan, punya komentar menarik. Katanya, “Zaman khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan keemasan Islam.

Khalifah-khalifah itu terkenal karena kesederhanaan, kejujuran, kealiman, dan keadilannya. Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan demi memajukan agama Islam.

Ketika wafat, tidaklah ia mempunyai apa-apa kecuali uang satu dinar. Ia biasa jalan kaki ke rumahnya maupun kantornya. Jarang terlihat dia menunggang kuda…”

Keikhlasannya yang luar biasa demi kemakmuran rakyat dan agamanya itu, kata Jurji, sampai-sampai menjelang wafatnya, Abu Bakar memerintahkan keluarganya untuk menjual sebidang tanah miliknya dan hasilnya dikembalikan ke masyarakat sebesar jumlah uang yang telah ia ambil dari rakyatnya itu sebagai honorarium, dan selebihnya agar diberikan kepada Baitulmal wat Tamwil, lembaga keuangan negara.

Stabilitas dan keamanan masyarakat, di antaranya yang paling menonjol dalam ‘rapor’ pemerintahan Abu Bakar. Karena dinilai sebagai amanat negara, Abu Bakar mengangkat Umar bin Khaththab sebagai kadi (hakim).

Namun, selama setahun sejak diangkat sebagai kadi tak satupun pengaduan dari masyarakat muncul. Ini karena rakyat terbiasa hidup jujur dan bersih dibanding masa sebelum Islam. Sementara Ali, Usman, dan Zaid bin Tsabit diangkat sebagai khatib.

Di medan pertempuran, sang khalifah juga mengajarkan bagaimana berperang yang baik. Sepuluh pesan yang kerap disampaikan khalifah yang wafat pada 13 H, dalam usia 63 tahun itu, ketika hendak melepas pasukannya ke medan perang adalah: “Jangan berkhianat, jangan berlebih-lebihan, jangan menipu (berbuat makar), jangan membunuh lawan dengan cara-cara sadis, jangan membunuh anak-anak, lelaki lanjut usia, dan wanita.

Juga jangan menebang pohon-pohon kurma yang sedang berbuah, jangan melakukan pembakaran, jangan menyembelih domba, sapi, dan unta kecuali hanya untuk sekadar kebutuhan makan dagingnya. Nanti kalian akan berjumpa dengan orang-orang yang bertapa dalam biara, maka biarkanlah mereka dan jangan mengusiknya.”n hery s/berbagai sumber

Dijamin Masuk Surga

Menjadi Muslim yang baik dan selalu taat pada agamanya tidaklah mudah. Tapi jalan menuju hal itu selalu terbuka. Sejarah mencatat, Abu Bakar satu dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang dengan tegar dan tabah menghadapi berbagai cobaan dan tantangan dalam mengamalkan ajaran Islam.

Tapi jangan pula ditanya seberapa besar kesetiaan Abu Bakar kepada Rasulullah, atau sejauh mana kualitas keimanannya kepada Allah.
Soal ini, Nabi sendiri dalam banyak sabdanya secara khusus berujar tentang diri dan kebaikan Abu Bakar. Kata Nabi SAW, seperti diriwayatkan Imam Bukhari, “Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu dan kamu berkata, “Engkau dusta! Sedangkan Abu Bakar berkata, “Dia benar.” Abu Bakar menyantuni aku dengan dirinya dan hartanya.

Tidakkah kalian berhenti mengganggunya. Sesudah itu, Abu Bakar tak lagi diganggu.” Masuknya Abu Bakar ke dalam Islam pun tak kalah pentingnya sebagai ‘ibrah (hikmah) kita semua. Kisah itu berawal ketika Abu Bakar bertemu Rasulullah. Kepada Rasul terakhir ini, ia bertanya, “Ya Muhammad apakah benar apa yang dituduhkan kaum Quraisy (kaumnya Abu Bakar sendiri, Red) terhadapmu bahwa kamu meninggalkan tuhan-tuhan kita, merendahkan akal pikiran kita dan mengkufuri ajaran-ajaran nenek moyang kita?” “Ya benar! Sesungguhnya aku ini Rasul Allah dan Nabi-Nya.

Allah mengutus aku untuk menyampaikan risalah-Nya dan mengajakmu kepada Allah yang benar. Demi Allah, itu adalah hak. Aku mengajakmu, hai Abu Bakar kepada Allah Yang Esa, tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Janganlah kamu menyembah selain Allah dan patuh serta taatlah kepada-Nya,” jawab sang Nabi. Abu Bakar pun masuk Islam.

Sejak masuknya Ash Shiddiq ke agama terakhir ini, perjungan dakwah Islam yang dilakukan Rasulullah makin kuat. Ia yang termasuk periode awal para pemeluk Islam itu, menjadikan seluruh jiwa, raga dan harta Abu Bakar, hanya untuk perjuangan dakwah Rasulullah.

Perlindungan dan pengorbanannya setiap saat terhadap sang Rasul pun dilakukannya sampai-sampai ia tak memedulikan lagi dirinya sendiri. Soal ini, Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Tirmizi, bersabda, “Tiada seorang pun bermanfaat bagiku hartanya sebagaimana bermanfaat bagiku harta Abu Bakar.”

Sosok Abu Bakar yang memang memiliki sifat-sifat yang sama seperti Rasulullah, di antaranya amanah, tablig (menyampaikan), fathanah (cerdas), teguh pendirian dan taat beragama, rendah diri dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain, itulah yang membuat Rasulullah dalam banyak hal memberikan kepercayaan pada diri Abu Bakar.

Dengan kepemilikan hartanya yang cukup banyak, lantaran ia memang saudagar kaya di masanya, Abu Bakar menjadikan seluruh harta yang dimilikinya hanya untuk mengabdi di jalan-Nya. Sekalipun dalam kondisi sakit misalnya, Abu Bakar senantiasa menyambut ajakan amal baik. Seperti dijelaskan sahabat Umar bin Khaththab, “Aku tidak pernah mendahului Abu Bakar dalam mengamalkan kebajikan. Dia yang selalu mendahuluiku.”

Perjuangan dan pengorbanan Abu Bakar yang penuh keikhlasan itu oleh Allah akan dibalas dengan surga. Sebagaimana diceritakan Abu Dzaar Ra, ketika Rasulullah masuk ke rumah ‘Aisyah Ra, beliau mengatakan Abu Bakar termasuk dalam al ‘asyarah al mubasysyiriina bil jannah (sepuluh orang yang dijamin Rasulullah bakal masuk surga). Dalam kelompok ini juga ada Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair Ibnul Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah Ibnul Jarrah. [Republika, 27 Desember 2002]

Bagaimana Perjuangan dan Pengorbanan kita sebagai seorang Muslim? Sudahkah Pengorbanan kita mendekati pengorbanan yang dilakukan oleh sahabat nabi ataukah masih juauh sekali?

Mari kita renungkan apa yang telah mereka perjuangkan dan korbankan demi tegaknya Agama Islam, serhingga kita sebagai seorang muslim bisa mengikuti jalan yang ditempuh oleh para pengikut Nabi yang telah berjuang dan berkorban harta benda bahkan dengan nyawanya untuk kemajuan Agama Islam.

Semoga kita selalu diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk selalu menegakkan Agama Islam dengan kemampuan dan keahlian serta ilmu yang kita miliki.

Mari selalu belajar, belajar dan belajar untuk meningkatkan pengetahuan kita.

Wassalam

disalin dari :
http://rhazio.wordpress.com/2007/09/18/kisah-abu-bakar-ash-shidiq/

Khutbah Terakhir Rasulullah SAW

"Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak kukatakan,
Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua
selepas tahun ini. Oleh itu, dengarlah dengan teliti kata-kataku ini
dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini
pada hari ini.

"Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota
ini sebagai suci, anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai
amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada
pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang
lain tidak menyakiti kamu lagi. Ingatlah bahawa sesungguhya kamu akan
menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala
amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh itu, segala urusan
yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.

"Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia
telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar,
maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam
perkara-perkara kecil.

"Wahai manusia sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu,
mereka juga mempunyai hak ke atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan
hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak diberikan makan dan
pakaian, dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu
dengan baik dan berlemah-lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya
mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas
mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu
tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

"Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini, sembahlah Allah, dirikanlah solat
lima waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan tunaikanlah zakat
dari harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu.
Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain.
Kamu semua adalah sama; tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang
lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal saleh.

"Ingatlah, bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari
untuk dipertanggungjawabkan diatas segala apa yang telah kamu kerjakan.
Oleh itu, awasilah agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan
kebenaran selepas ketiadaanku.

"Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang
selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia,
nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku
sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua
perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti
kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Qur’an dan Sunnahku.

"Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan
pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku
dari mereka yang terus mendengar dariku. Saksikanlah Ya Allah,
bahawasanya telah aku sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-Mu."

http://karimun2000.blog.friendster.com/2008/03/khutbah-terakhir-rasulullah-saw/

Tentang Puasa dan Membaca Alquran

Ada sedikit kisah dari ceramah waktu tarawih di masjid Benhil kemarin. Ceritanya pas habis buka puasa bareng temen-temen (pas hari gempa itu), aku tarawih di masjid Benhil. Masjidnya udah lama (bangunan tua), tapi masih terawat, dan subhanallah, imam sholat nya bacaannya fasih sekali, sepertinya beliau adalah seorang hafidz.

Setelah selesai tarawih 8 rakaat sebelum witir, naiklah khotib untuk memberikan tausiyah. Kisah yang diangkat adalah sebagai berikut :

Pernah pada suatu hari di bulan Ramadhan, Rasulullah Muhammad SAW berjalan di suatu sore. Lalu beliau menyaksikan pemandangan seorang perempuan ibu rumah tangga yang marah-marah kepada pembantunya. Marahnya cukup besar dan sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Lalu Rasulullah berkata kepada salah seorang tetangga wanita tersebut, untuk meminta makanan. Diberikanlah makanan tersebut ke Rasul. Lalu Rasulullah membawanya ke wanita tersebut dan berkata, "Wahai ibu, ini saya membawa makanan, silakan dimakan". Ibu ini terkejut dan berkata, "Ya Rasul, terima kasih tapi aku sedang berpuasa" . Rasul menjawab, "Bagaimana bisa Anda berpuasa, sedangkan Ibu baru saja berkata-kata demikian kepada pembantu ibu?" Kisah yang menarik ya? Moral atau amanat dari kisah ini adalah..puasa ternyata memang tidak bisa hanya menahan lapar dan haus. Ujian sebenarnya adalah menahan emosi, menahan pandangan, menahan amarah, mencegah diri untuk tidak bergunjing, jadi titik beratnya lebih ke puasa secara hati. Apakah sampai hari ini kita sudah berpuasa dengan benar? Di sisa Ramadhan, ini marilah kita berusaha lagi memperbaiki puasa kita, agar tujuan puasa untuk menjadi orang bertakwa benar-benar tercapai. Amin.

Kisah kedua, waktu saya tarawih di masjid sederhana dekat kos. Di masjid ini, khotibnya adalah seorang guru SD Cilandak daerah tempat tinggal saya. Sang kepala sekolah berkisah, beberapa hari sebelumnya (juga saat hari terjadi gempa), ada seorang kepala sekolah dari Aceh yang melakukan studi banding ke SD-nya. Di SD ini, warga Aceh ini bercerita bahwa pada tahun 2007, telah ditemukan jenazah korban peristiwa tsunami di Aceh. Sedangkan tsunami itu terjadi pada tahun 2004. Jenazah ini terpendam lumpur yang menjadi tanah, dan baru ditemukan 3 tahun kemudian. Yang menjadi luar biasa adalah, baik pakaian, jasad, kulit, maupun seluruh tubuh jenasah ini utuh tidak rusak sedikitpun. Setelah dibuka kartu identitasnya, yaitu KTP yang masih utuh, dan ditelusuri, ternyata jenazah pria ini dulunya adalah seorang mahasiswa IAIN di Aceh, yang adalah seorang hafidz (penghafal Al Quran). Almarhum hafal Al Quran 30 juz. Subhanallah, amalan hafalan Al Quran telah menjaga dirinya dari siksa kubur.. Pelajaran yang disampaikan khotib adalah, marilah kita mencintai Al Quran. Sudahkah kita membuka dan membaca Al Quran walau hanya satu halaman atau beberapa ayat setiap hari? Apabila kita membaca dan mengamalkannya, Insya Allah hidup kita akan selalu tenang dan ada dalam jalan lurus sesuai agama. Sudah selayaknya kita lebih mencintai Al Quran, pedoman utama hidup kita yang turun langsung dari Allah SWT melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Kira-kira demikian sharing dari kisah kisah yang saya dengar dari tausiyah tarawih. Semoga bermanfaat. Yang benar dari Allah SWT, sedangkan yang salah hanya saya manusia yang penuh kelalaian. Wallahu'alam bish shawab.

Cinta Kepada Allah

CINTA KEPADA ALLAH

(MAHABBATULLAH)


Sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: "Apakah engkau mencintai Allah?" Ali ra menjawab, "Ya". Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?" Ali ra kembali menjawab, "Ya". Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya". Husain kecil kembali bertanya: "Apakah engkau mencintaiku?" Ali menjawab, "Ya". Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?" Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah". Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.

Seorang sufi wanita terkenal dari Bahsrah, Rabi'ah Al- Adawiyah (w. 165H) ketika berziarah ke makam Rasul Saw. pernah mengatakan: "Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku pada Allah Swt". Tentang cinta itu sendiri Rabiah mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal kecuali yang dicintainya. Bukan berarti Rabiah tidak cinta kepada Rasul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalah bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasul. Jadi mencintai Rasulullah Saw. sudah dihitung dalam mencintai Allah Swt. Seorang mukmin pecinta Allah pastilah mencintai apa apa yang di cintai-Nya pula. Rasulullah pernah berdoa: "Ya Allah karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih aku cintai dari pada air yang dingin."

Selanjutnya Rabiah -yang sangat terpandang sebagai wali Allah karena kesalehannya- mengembangkan konsep cinta yang menurut hematnya harus mengikuti aspek kerelaan (ridha), kerinduan (syauq), dan keakraban (uns). Selain itu ia mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus mengesampingkan dari cinta-cinta yang lain dan harus bersih dari kepentingan pribadi (dis-interested). Cinta kepada Allah tidak boleh mengharapkan pahala atau untuk menghindarkan siksa, tetapi semata-mata berusaha melaksanakan kehendak Allah, dan melakukan apa yang bisa menyenangkan-Nya, sehingga Ia kita agungkan. Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahannya yang sempurna. Rumusan cinta Rabiah dapat di simak dalam doa mistiknya: "Oh Tuhan, jika aku menyembahmu karena takut akan api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu karena berharap surga, maka campakanlah aku dari sana; Tapi jika aku menyembahmu karena Engkau semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi."

Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. "(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. 5: 54). Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).

Menurut Sang Hujjatul Islam ini kata mahabbah berasal dari kata hubb yang sebenarnya mempunyai asal kata habb yang mengandung arti biji atau inti. Sebagian sufi mengatakan bahwa hubb adalah awal sekaligus akhir dari sebuah perjalanan keberagamaan kita. Kadang kadang kita berbeda dalam menjalankan syariat karena mazhab/aliran. Cinta kepada Allah -yang merupakan inti ajaran tasawuf- adalah kekuatan yang bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu.

Bayazid Bustami sering mengatakan: "Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang di peroleh kekasih, meskipun itu sedikit." Kata-kata arif dari sufi pencetus doktrin fana' ini dapat kita artikan bahwa ciri-ciri seorang yang mencintai Allah pertama adalah rela berkorban sebesar apapun demi kekasih. Cinta memang identik dengan pengorbanan, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga sekalipun. Hal ini sudah di buktikan oleh Nabi Muhammad Saw., waktu ditawari kedudukan mulia oleh pemuka Quraisy asalkan mau berhenti berdakwah. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Rasulullah mengatakan kepada pamannya: "Wahai pamanku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa". Ciri kedua dari pecinta adalah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa- apa yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.

Jiwa para pecinta rindu untuk berjumpa dan memandang wajah Allah yang Maha Agung.. "Orang orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka "'(QS. 2: 46). Tentang kerinduan para pecinta terhadap Allah Swt., sufi besar Jalaluddin Rumi menggambarkan dalam matsnawi sebagai kerinduan manusia pada pengalaman mistikal primordial di hari "alastu" sebagai kerinduan seruling untuk bersatu kembali pada rumpun bambu yang merupakan asal muasal ia tercipta. Hidup di dunia merupakan perpisahan yang sangat pilu bagi para pecinta, mereka rindu sekali kepada Rabbnya seperti seseorang yang merindukan kampung halamannya sendiri, yang merupakan asal-usulnya. Jiwa para pecinta selalu dipenuhi keinginan untuk melihat Allah Swt. dan itu merupakan cita-cita hidupnya. Menurut Al-Ghazali makhluk yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat kecintaannya kepada Allah Swt. Menurutnya, ar-ru'yah (melihat Allah).merupakan puncak kebaikan dan kesenangan. Bahkan kenikmatan surga tidak ada artinya dengan kenikmatan kenikmatan perjumpaan dengan Allah Swt. Meminta surga tanpa mengharap perjumpaan dengan-Nya merupakan tindakan "bodoh" dalam terminologi sufi dan mukmin pecinta.

"Shalat adalah mi'rajnya orang beriman" begitulah bunyi sabda Nabi Saw. untuk menisbatkan kualitas shalat bagi para pecinta. Shalat merupakan puncak pengalaman ruhani di mana ruh para pecinta akan naik ke sidratul muntaha, tempat tertinggi di mana Rasulullah di undang langsung untuk bertemu dengan-Nya. Seorang Aqwiya (orang-orang yang kuat kecintaannya pada Tuhan) akan menjalankan shalat sebagai media untuk melepaskan rindu mereka kepada Rabbnya, sehingga mereka senang sekali menjalankannya dan menanti-nanti saat shalat untuk waktu berikutnya, bukannya sebagai tugas atau kewajiban yang sifatnya memaksa. Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: "Ada hamba yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum pedagang. Ada hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya budak, dan ada sekelompok hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah Swt, itulah ibadahnya orang mukmin". Seorang pecinta akan berhias wangi dan rapi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang paling ia sukai sekalipun. Bahkan mereka kerap kali menangis dalam shalatnya. Kucuran air mata para pecinta itu merupakan bentuk ungkapan kerinduan dan kebahagiaan saat berjumpa dengan-Nya dalam sholatnya.

Mencintai Allah Swt. bisa di pelajari lewat tanda-tanda-Nya yang tersebar di seluruh ufuk alam semesta. Pada saat yang sama, pemahaman dan kecintaan kepada Allah ini kita manifestasikan ke bentuk yang lebih nyata dengan amal saleh dan akhlakul karimah yang berorientasi dalam segenap aspek kehidupan.

Ada sebuah cerita, seorang sufi besar bernama Abu Bein Azim terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang Malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu Bein bertanya: "Apa yang sedang anda kerjakan?" Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan. Abu Bein ingin sekali namanya tercantum. Dengan cemas ia melongok daftar itu, tapi kemudian ia gigit jari, namanya tidak tercantum di situ. Ia pun bergumam: "Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia". Esok harinya ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi. Abu Bein terkejut karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun protes: "Aku bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia". Malaikat itu berkata: "Baru saja Tuhan berkata kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia".

Mencintai Allah bukan sebatas ibadah vertikal saja (mahdhah), tapi lebih dari itu ia meliputi segala hal termasuk muamalah. Keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas ini pernah di tekankan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadits qudsi: "Aku tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil), melainkan karena ia memberi makan fakir miskin dan shalat ketika orang-orang terlelap tidur". Jadi cinta kepada Allah pun bisa diterjemahkan ke dalam cinta kemanusiaan yang lebih konkrit, misalnya bersikap dermawan dan memberi makan fakir miskin. Sikap dermawan inilah yang dalam sejarah telah di contohkan oleh Abu bakar, Abdurahman bin Auf, dan sebagainya. Bahkan karena cintanya yang besar kepada Allah mereka memberikan sebagian besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit saja untuk dirinya. Mencintai Allah berarti menyayangi anak-anak yatim, membantu saudara saudara kita yang di timpa bencana, serta memberi sumbangan kepada kaum dhuafa dan orang lemah yang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw. pernah bersabda ketika ditanya sahabatnya tentang kekasih Allah (waliyullah). Jawab beliau: "Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, dengan ruh Allah, bukan atas dasar pertalian kerluarga antara sesama mereka dan tidak pula karena harta yang mereka saling beri." Menurut Nurcholish Madjid, yang di tekankan dalam sabda Nabi tersebut adalah perasaan cinta kasih antar sesama atas dasar ketulusan, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

oleh PUJI WANTO

Mahasiswa TMI Angkatan 1997

Universitas Islam Indonesia
http://unisys.uii.ac.id/index.asp?u=1341&b=I&v=1&id=1

Orang Orang Yang Didoakan Malaikat

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya." (Qs. Al Anbiyaa': 26-28)

Inilah orang-orang yang didoakan oleh para malaikat:

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.'" (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.

Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan." (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang-orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf-shaf." (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu." (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang-orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' radliyallaahu 'anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.'" (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang-orang yang berinfak.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.' Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit.'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur.

Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur." (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit.

Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh." (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain." (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

http://www.fiqhislam.com/agenda-muslim/a-r-t-i-k-e-l/6102-orang-orang-yang-di-doakan-oleh-malaikat.html

Seandainya Lebih Panjang Lagi

Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rosulullah berkata,"tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?" Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal" "Apa yang di katakannya?" "saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut.

Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong." "Bagaimana bunyinya?" desak Rosulullah. Istri yang setia itu menjawab, "suami saya mengatakan "Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru.... andaikata semuanya...."
hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?" Rosulullah tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.

Kisahnya begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih panjang lagi". Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanyalebih besar pula.

Ucapan lainnya ya Rosulullah?"tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab,"adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan.

Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan yang masih yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi". Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?" tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan,"ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging.

Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ' kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

Memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain.

Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri.Karena itu Allah mengingatkan: "kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula." (surat Al Isra':7)